Halo sahabat semua kembali lagi di ensiklopedia semoga bisa menambah wawasan dan informasi yang mungkin belum kalian ketahui.
Di tengah dunia yang terus berubah begitu cepat, di mana kata-kata baru lahir setiap hari dan bahasa-bahasa lama perlahan menghilang, Islandia justru memilih jalan yang berbeda.

Mereka mempertahankan bahasa leluhur mereka dengan sangat hati-hati. Seolah setiap kata adalah sebuah peninggalan berharga dari masa lalu.
Bahasa resmi Islandia atau yang disebut Icelandic menjadi salah satu bahasa paling murni sekaligus paling sulit dipelajari di dunia. Bukan tanpa alasan. Bahasa ini merupakan keturunan langsung dari Nors Kuno.
Bahasa yang dibawa oleh bangsa Viking ketika mereka pertama kali menetap di pulau terpencil ini pada abad ke9. Selama lebih dari 1000 tahun, Islandia hidup dalam keterasingan geografis. Dipisahkan oleh lautan luas dari dunia luar.
Perubahan bahasa mereka berjalan sangat lambat. Sementara banyak bahasa di dunia terus berevolusi dan bercampur dengan pengaruh asing, bahasa Islandia justru tetap mempertahankan bentuk lamanya. Hasilnya benar-benar luar biasa.
Orang Islandia modern masih mampu membaca manuskrip kuno peninggalan bangsa Viking dari abad ke-12 dengan tingkat pemahaman yang sangat tinggi. Seolah ada sebuah jembatan yang menghubungkan manusia masa kini dengan para pelaut Viking yang hidup lebih dari 1000 tahun lalu
Di negeri ini, orang-orang hanya bekerja 4 hari dalam seminggu. Namun, mereka tetap menjadi salah satu masyarakat paling makmur di dunia. Pendidikan benar-benar gratis. Sistem kesehatannya pun melindungi hampir seluruh warganya.
Berikut 10 Fakta Unik Islandia
`1. Malas Bekerja Tapi Kaya Raya
Di banyak negara, bekerja keras sering dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Namun di negeri ini cara pandangnya justru berbeda.

Masyarakat Islandia percaya bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja. Masih ada keluarga yang ingin ditemui, alam yang ingin dinikmati, dan waktu yang layak dimiliki setiap orang.
Bagi mereka, pekerjaan hanyalah bagian dari kehidupan, bukan kehidupan itu sendiri. Filosofi sederhana itulah yang kemudian melahirkan sebuah kebijakan yang membuat banyak negara tercengang.
Di Islandia hanya 4 hari kerja dalam seminggu, bukan lima, bukan pula enam. Dan yang paling mengejutkan, gaji para pekerjanya tetap dibayar penuh.
Banyak orang sempat meragukan kebijakan ini. Mereka mengira produktivitas akan menurun ketika jam kerja dipangkas. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dengan waktu istirahat yang lebih panjang, para pekerja kembali ke kantor dengan pikiran yang lebih segar.
Tingkat stres menurun, dan semangat kerja meningkat. Hasilnya produktivitas mereka justru menjadi lebih tinggi daripada sebelumnya dan kejutan itu belum berhenti di sana.
Meskipun jam kerja lebih singkat, rata-rata pekerja penuh waktu di Islandia dapat memperoleh pendapatan lebih dari Rp100 juta setiap bulannya.
Sebuah angka yang terdengar luar biasa, tetapi juga sejalan dengan kenyataan bahwa Islandia merupakan salah satu negara dengan biaya hidup paling mahal di dunia. Rata-rata pengeluarannya bahkan sekitar 20% lebih tinggi dibandingkan banyak negara lain di Eropa.
Tingginya biaya hidup itu tidak lepas dari sistem pajak yang juga sangat besar. Pajak penghasilan di Islandia berkisar antara 31 hingga 46%.
Itu artinya hampir setengah dari penghasilan warganya masuk ke kas negara. Angkanya memang besar, sangat besar. Namun meskipun potongannya besar, sisa uangnya tetap sangat banyak dan lebih dari cukup untuk hidup makmur di sana.
Menariknya, masyarakat Islandia justru tidak memandang pajak sebagai beban. Mereka melihatnya sebagai investasi bersama. Karena hampir setiap uang yang mereka bayarkan akan kembali lagi kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan publik yang berkualitas.
Salah satu contohnya dapat kita lihat dari sistem kesehatannya. Pemerintah Islandia memberikan perlindungan yang sangat luas melalui jaminan kesehatan semesta. Anak-anak di bawah usia 18 tahun serta para ibu yang melahirkan memperoleh layanan kesehatan secara gratis.
Sementara bagi orang dewasa, pemerintah menetapkan batas maksimal biaya pengobatan setiap bulan. Begitu batas itu tercapai, seluruh perawatan berikutnya akan ditanggung sepenuhnya oleh negara.
Di Islandia, rumah sakit bukanlah tempat yang membuat orang takut karena biayanya. Hampir tidak ada kisah keluarga yang bangkrut hanya karena harus membayar pengobatan.
Hal yang sama juga berlaku di dunia pendidikan. Hasil pajak yang terkumpul digunakan untuk membebaskan biaya sekolah mulai dari jenjang paling dasar hingga perguruan tinggi benar-benar gratis.
Kesempatan untuk belajar benar-benar terbuka bagi semua warga.
Bahkan anak-anak sekolah di Islandia juga tidak dibebani pekerjaan rumah. Durasi sekolah mereka pun termasuk salah satu yang paling singkat di dunia. Dalam 1 tahun mereka hanya menjalani kegiatan belajar selama sekitar 6 bulan. Sementara 6 bulan sisanya diisi dengan masa libur yang panjang.
Mungkin inilah yang membuat Islandia terasa begitu berbeda. Di negeri ini, waktu menjadi kemewahan yang benar-benar dimiliki setiap orang.
2. Negara Paling Aman Dan Bahagia di Dunia
Di negeri ini, rasa aman bukanlah sesuatu yang harus dicari. Ia hadir begitu saja menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak ada kecemasan yang terus menghantui ketika berjalan di malam hari.
Tidak ada rasa waswas yang berlebihan saat meninggalkan rumah. Bagi masyarakat Islandia, hidup dalam ketenangan bukanlah sebuah kemewahan, melainkan sesuatu yang telah mereka rasakan selama bertahun-tahun.
Sejak tahun 2008, Islandia terus menempati peringkat teratas dalam Global Peace Index, menjadikannya sebagai negara paling damai di dunia selama belasan tahun berturut-turut. sebuah pencapaian yang bukan lahir dari keberuntungan, melainkan dari budaya masyarakat yang dibangun di atas rasa saling percaya, kesetaraan, dan penghormatan terhadap sesama.
Yang membuat banyak orang semakin sulit mempercayainya adalah kenyataan bahwa negara ini sama sekali tidak memiliki angkatan bersenjata. Tidak ada tentara, tidak ada Kementerian Pertahanan. Bahkan polisi yang berpatroli setiap hari pun umumnya tidak membawa senjata api.
Bagi sebagian negara, hal itu mungkin terdengar mustahil. Namun di Islandia itulah kenyataannya. Karena tingkat kriminalitas yang sangat rendah, tugas kepolisian lebih banyak diisi dengan membantu masyarakat daripada menghadapi kejahatan. pemandangan sederhana yang mungkin sulit dibayangkan di banyak negara lain.
Rasa aman itu bahkan terasa dalam hal-hal yang paling sederhana. Di banyak kawasan permukiman, rumah-rumah berdiri tanpa pagar tinggi. Sepeda, sepeda motor, bahkan mobil diparkir begitu saja tanpa rasa khawatir.
Masyarakat tidak merasa perlu memberikan pengamanan berlebihan pada barang-barang milik mereka. Karena tingkat kejahatan di negara ini memang sangat rendah.
Bagi sebagian besar orang, pemandangan itu mungkin terasa mustahil. Namun di Islandia itulah arti sebuah rasa percaya. Keamanan yang begitu tinggi akhirnya melahirkan sesuatu yang lebih berharga.
3. Negara Paling Bahagia di Dunia
Dalam berbagai laporan dunia, Islandia hampir selalu berada di jajaran lima besar negara paling bahagia di planet ini.

Lingkungannya bersih, ritme hidupnya tenang, tekanan hidup relatif rendah, dan hubungan antar manusia dibangun di atas rasa saling menghormati. Semua itu membuat masyarakatnya menikmati harapan hidup rata-rata hingga sekitar 83 tahun, salah satu yang tertinggi di dunia.
Namun mungkin simbol paling indah dari semua itu berdiri tidak jauh dari ibu kotanya. Di sanalah terdapat Desa Stadir kediaman resmi Presiden Islandia.
Jika di banyak negara gedung kepresidenan identik dengan pagar tinggi, pos penjagaan, dan pengamanan berlapis, suasana yang kita temui di sini justru terasa sebaliknya.
Bangunannya sederhana, menyatu dengan hamparan alam di sekelilingnya tanpa kesan menciptakan jarak antara pemimpin dan rakyatnya.
Siapapun dapat berjalan di area luarnya, menikmati suasana dengan tenang, bahkan melihat ke dalam melalui jendela-jendela kaca tanpa disambut teriakan petugas atau tatapan penuh curiga.
Di Islandia, kedamaian bukan hanya tercermin dari alamnya yang tenang, tetapi juga dari cara manusianya memilih untuk saling mempercayai.
4. Hidup di Dua Dunia ( Midnight Sun and Polar Night )
Bangsa Islandia berhasil mempertahankan sesuatu yang hampir hilang di tempat lain. Sebuah suara dari masa lalu.
Di sebagian besar tempat di dunia, pergantian siang dan malam adalah sesuatu yang begitu biasa. Matahari terbit lalu perlahan tenggelam. Hari berganti menjadi malam dan manusia mengikuti ritme alam yang sama selama ribuan tahun.
Namun di negeri yang berada dekat lingkar kutub utara ini, aturan itu tidak selalu berlaku. Karena posisi geografisnya yang unik, masyarakat Islandia harus menjalani kehidupan dalam dua dunia yang sangat berbeda setiap tahunnya.
Satu dunia tanpa malam dan satu lagi hampir tanpa matahari. Dunia pertama hadir ketika musim panas tiba, terutama pada bulan Juni dan Juli. Saat itu, Islandia mengalami fenomena luar biasa bernama Midnight Sun, sebuah masa ketika matahari tidak pernah benar-benar menghilang di balik cakrawala.
Di sini pada pukul 1 dini hari, namun langit masih terang seperti sore hari. Tidak ada gelap, tidak ada tanda bahwa hari telah berakhir. Matahari hanya bergerak rendah di langit seolah enggan meninggalkan negeri kecil di utara ini.
Fenomena ini membuat kehidupan masyarakat Islandia berubah. Hari terasa jauh lebih panjang, energi warga meningkat, dan waktu seolah menjadi lebih luas daripada biasanya. Banyak orang memanfaatkan momen ini untuk melakukan berbagai aktivitas di luar ruangan yang sulit dilakukan di musim lain.
Bermain golf tengah malam, mendaki gunung saat sebagian besar dunia sedang tidur, berkebun, atau sekadar duduk santai bersama teman di sebuah cafe hingga dini hari ditemani cahaya matahari yang masih menyinari langit. Namun, ada satu masalah kecil.
Tubuh manusia tetap memiliki naluri alami untuk tidur ketika malam datang. Karena itulah tirai khusus penahan cahaya atau blackout curtains menjadi perlengkapan wajib bagi banyak rumah di Islandia. Tanpa perlindungan itu, kamar tidur bisa tetap terang meskipun jam telah menunjukkan tengah malam.
Tetapi setelah pesta cahaya musim panas berakhir, Islandia kembali memasuki dunia yang benar-benar berbeda. Ketika musim dingin datang, terutama sekitar bulan Desember, matahari perlahan menghilang dan negeri ini memasuki fenomena yang disebut Polar Kight.
Jika musim panas menghadirkan siang tanpa akhir, maka musim dingin menghadirkan malam yang terasa hampir abadi. Di beberapa wilayah, masyarakat hanya mendapatkan cahaya redup selama sekitar 4 jam dalam sehari, sementara sisanya diselimuti kegelapan panjang yang membuat suasana berubah menjadi jauh lebih sunyi.
Dan bagi manusia, kurangnya sinar matahari juga menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, masyarakat Islandia memiliki cara unik untuk menjaga keseimbangan hidup mereka selama bulan-bulan gelap tersebut.
Mereka menciptakan kehangatan dari hal-hal sederhana. Lampu-lampu kecil menghiasi jendela rumah. Keluarga berkumpul lebih lama di dalam ruangan. Namun, malam panjang di Islandia bukanlah akhir dari keindahan.
Justru di balik gelapnya langit musim dingin tersimpan salah satu pertunjukan alam paling luar biasa di planet ini. Aurora Borealis cahaya utara.
Ketika malam semakin pekat dan salju menyelimuti daratan, langit Islandia perlahan berubah menjadi sebuah kanvas raksasa. Dari kejauhan muncul cahaya hijau yang bergerak perlahan kemudian menari bersama warna ungu dan merah muda yang menyusuri angkasa.
Tirai cahaya kosmis itu perlahan menari di atas kepala. melengkung seperti gelombang sutra yang diterbangkan angin dari alam semesta.
Pada saat itu, kita tidak lagi merasa sedang melihat sekadar fenomena alam, melainkan seperti sedang menyaksikan sebuah pesan dari langit. Sebuah pengingat bahwa bahkan kegelapan yang paling panjang pun dapat menyimpan keindahan yang luar biasa.
5. Ibu Kota Hijau di Ujung Dunia
Reyavik adalah ibu kota Islandia. Namun, kota ini mungkin tidak sesuai dengan bayangan kita tentang sebuah ibu kota. Sebagai pusat pemerintahan sebuah negara, biasanya yang muncul adalah gedung-gedung tinggi, jalanan yang padat, suara kendaraan yang tidak pernah berhenti, dan kehidupan yang bergerak begitu cepat.

Namun, Reyavik memilih jalan yang berbeda. Ia terasa begitu tenang. Sebuah kota yang tidak mengejar kemegahan dengan gedung pencakar langit, melainkan membangun masa depannya dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana. Alam.
Sebagai ibu kota, Reiavik memang menjadi pusat pemerintahan sekaligus kota terbesar di Islandia. Namun, suasana yang kita temukan di sini terasa sangat berbeda dari kebanyakan ibu kota modern lainnya.
Tidak ada kemacetan yang melelahkan. Tidak ada langit kelabu akibat polusi. Yang ada hanyalah udara bersih, bangunan penuh warna, dan kehidupan kota yang berjalan dengan ritme yang lebih tenang.
Tetapi keajaiban terbesar Reikiavik sebenarnya tersembunyi jauh di bawah permukaan tanah. Kota ini berdiri tepat di atas wilayah vulkanik aktif tempat energi panas bumi terus bergerak dari dalam perut bumi.
Dan alih-alih melawan kekuatan alam tersebut, masyarakat Islandia justru belajar memanfaatkannya. Hampir seluruh kebutuhan energi kota ini berasal dari sumber alami tersebut. listrik, pemanas rumah, hingga air panas yang digunakan masyarakat setiap hari.
Semuanya berasal dari tenaga bumi yang selama ribuan tahun telah tersimpan di bawah kaki mereka. Bahkan saat musim dingin datang dan badai salju menyelimuti kota, Rekiavik memiliki cara yang sangat unik untuk menghadapinya.
Di bawah trotoar dan jalanan kota terdapat jaringan pipa air panas bumi yang membantu mencairkan salju secara alami. Karena itu ketika kota lain harus sibuk membersihkan jalan dari tumpukan salju, masyarakat Rikyavik cukup berjalan melewati jalur yang tetap hangat.
Sebuah contoh kecil tentang bagaimana manusia dan alam dapat bekerja bersama. Berjalan di Rekavik juga memberikan pengalaman yang berbeda. Kota ini tidak dibangun untuk membuat manusia merasa kecil, melainkan untuk membuat mereka merasa nyaman.
Rumah-rumah kayu berlapis seng dengan warna-warna cerah berdiri di sepanjang jalan memberikan sentuhan hangat di tengah landskap utara yang dingin.
Di pusat kota, terutama kawasan Laugave Gur, kita akan menemukan kafe-kafe kecil yang nyaman, toko buku tua, serta galeri seni independen yang membuat kota ini terasa hidup tanpa kehilangan ketenangannya.
Tidak ada gedung pencakar langit yang mendominasi langit karena di Reiavik alam tetap menjadi bangunan terbesar. Jika berjalan lebih jauh kita akan menemukan Kosin, kawasan kota tua yang menyimpan sejarah panjang Reikiavik.
Berbeda dengan kota-kota tua Eropa yang identik dengan Benteng Batu dan istana megah, kota tua Islandia justru memiliki pesonanya sendiri. Di sini rumah-rumah kayu berlapis seng dari abad ke-18 masih berdiri dirancang untuk bertahan menghadapi badai salju dan kerasnya cuaca utara.
Salah satu saksi sejarahnya adalah Adal Stret 10, sebuah rumah hitam sederhana yang dibangun pada tahun 1762 dan dikenal sebagai rumah tertua di Reyvik.
Tidak jauh dari sana terdapat Danau Chernin, sebuah danau kecil di tengah kota yang menghadirkan pemandangan yang hampir terasa seperti lukisan. Di sekelilingnya berdiri bangunan bersejarah, termasuk gedung parlemen Islandia yang dibangun pada tahun 1881.
Menariknya, ketika musim dingin datang, sebagian permukaan danau ini tetap tidak membeku sepenuhnya. Energi panas bumi yang mengalir di bawah tanah menjaga sebagian airnya tetap hangat. Menciptakan tempat perlindungan bagi ratusan burung dan angsa yang berkumpul di tengah kota.
Namun wajah Reikiafik tidak hanya tentang sejarah dan alam. Kota ini juga memiliki bangunan yang menjadi simbol bagaimana Islandia melihat masa depan. Halgrims Kirkja, sebuah gereja besar yang berdiri di titik tertinggi kota menjulang seperti menara batu yang mengawasi Reiavfik dari kejauhan.
Bentuknya yang unik terinspirasi dari kolom-kolom batu basal vertikal yang terbentuk ketika lava panas Islandia perlahan mendingin dan membeku. Bangunan ini seolah menjadi perpaduan antara karya manusia dan bentuk alami yang diciptakan bumi.
Seperti sebuah gunung yang berubah menjadi tempat ibadah. Reikia Fik mungkin bukan kota terbesar di dunia, bukan pula kota dengan gedung tertinggi atau jalanan paling ramai. Namun justru karena itulah kota ini begitu istimewa. Di tempat yang begitu dekat dengan kutub, manusia berhasil menciptakan sebuah rumah yang hangat.
6. Desa Dongeng di Ujung Fyord
Setelah melihat ibu kota Islandia, kita juga harus melihat kehidupan masyarakat Islandia di bagian timur, tempat di mana rumah-rumah berwarna-warni berdiri di tepi air yang tenang dan air terjun mengalir dari lereng pegunungan.
Sidis Fordur, sebuah desa kecil yang seolah tidak dibuat oleh manusia, melainkan dilukis oleh alam. Terletak di ujung sebuah fiord atau teluk sempit yang dikelilingi oleh pegunungan bersalju, desa kecil ini menjadi salah satu desa mempesona di Islandia.
Jalannya berliku melewati lembah, sementara di sekelilingnya puluhan air terjun jatuh dari ketinggian. Menciptakan pemandangan yang terasa seperti berasal dari sebuah cerita fantasi.
Desa dengan penduduk hanya sekitar 700 jiwa ini mulai berkembang pada pertengahan abad ke-19 ketika para nelayan dari Norwegia datang dan menetap di kawasan tersebut.
Mereka melihat potensi besar dari laut di sekitarnya, terutama melalui industri ikan haring yang kemudian membawa kemakmuran bagi wilayah ini.
Dari sebuah pemukiman kecil di ujung dunia, Sedis Fiordur perlahan berubah menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Islandia. Rumah-rumah kayu dengan gaya arsitektur Norwegia dari abad ke-19 masih berdiri dengan kokoh dengan warna-warna cerah yang menghiasi dindingnya.
Rumah-rumah itu menjadi saksi bisu perjalanan sebuah desa kecil yang berhasil menjaga masa lalunya. Namun ada satu tempat yang membuat nama Sedis Fiordur dikenal oleh dunia. Sebuah bangunan kecil yang begitu sederhana tetapi memiliki daya tarik yang luar biasa.
Namanya The Blue Church. sebuah gereja klasik berwarna biru pastel yang berdiri tenang di tengah lembah. Warnanya yang lembut memberikan kontras indah dengan landskap Islandia yang biasanya didominasi oleh batu hitam, salju putih, dan langit kelabu.
Berjalan kaki menyusuri jalan-jalan desa ini memberikan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Udara dingin menyentuh wajah, suara air terjun terdengar dari kejauhan, sementara ombak kecil menyentuh tepi pelabuhan dengan ritme yang perlahan.
Semuanya terasa begitu sederhana, begitu tenang. Di tempat yang jauh dari dunia luar, kita menemukan sebuah desa kecil, tempat alam dan manusia belajar hidup berdampingan.
7. Pantai Hitam Yang Indah Namun Mematikan
Timur Islandia. Kita menuju ke bagian selatannya. Melihat sebuah tempat yang membuat kita sulit percaya bahwa pemandangan seperti ini benar-benar ada di bumi. Sebuah pantai yang berwarna hitam pekat di tepi Samudra Atlantik Utara.
Inilah Renis Viara, salah satu pantai paling indah sekaligus paling misterius yang dimiliki Islandia. Dari kejauhan, tempat ini terlihat seperti sebuah landskap dari dunia lain. Pasirnya berwarna hitam legam. membentang luas di sepanjang garis pantai.
Menciptakan kontras yang luar biasa dengan buih putih ombak dan langit utara yang sering diselimuti awan. Warna hitam tersebut lahir dari kekuatan alam yang besar. Ribuan tahun yang lalu, letusan gunung berapi mengalirkan lava panas ke permukaan bumi.
Lava itu kemudian membeku menjadi batuan keras dan dengan perlahan batuan itu dihancurkan oleh angin dan hantaman ombak samudra Atlantik yang tidak pernah berhenti. Butiran-butiran batu vulkanik itulah yang akhirnya berubah menjadi pasir hitam Renisviara. sebuah pantai yang terbentuk bukan dari kelembutan, tetapi dari sisa amarah bumi.
Namun, keajaiban Reinis Viiara tidak berhenti di pasirnya. Di sepanjang pantai berdiri dinding tebing raksasa yang dipenuhi oleh formasi batuan unik bernama Gardar. Ribuan kolom batu basal tersusun menjulang secara vertikal membentuk pola heksagonal yang begitu rapi dan simetris.
Bentuknya terlihat seperti karya seni yang dibuat dengan ketelitian luar biasa. Padahal semuanya lahir secara alami. Ketika lava cair perlahan mendingin jutaan tahun lalu, proses alam membentuk retakan-retakan sempurna yang akhirnya menciptakan kolom batu seperti pilar yang kita lihat hari ini.
Tidak jauh dari bibir pantai berdiri pula formasi batu raksasa bernama Reinis Dranger. Pilar-pilar batu hitam ini menjulang keluar dari laut menghadapi gelombang besar yang terus menghantamnya tanpa henti.
Bagi masyarakat Islandia, tempat ini memiliki kisah legenda yang diwariskan selama berabad-abad tentang troll yang terlambat bersembunyi ketika matahari pagi muncul dan akhirnya berubah menjadi batu untuk selamanya. Sebuah cerita rakyat yang membuat suasana Renis Viiara terasa semakin misterius.
Namun, Rainis Sejara bukanlah tempat yang bisa diperlakukan seperti pantai biasa. Tempat ini dikenal sebagai salah satu pantai paling berbahaya di dunia karena fenomena yang disebut sneaker Waves.
Ombak ini datang tanpa tanda yang jelas. Dalam hitungan detik, gelombang besar dari samudra Atlantik dapat bergerak jauh melewati batas air normal. Menyapu pasir dengan kekuatan yang tidak terduga.
Reni sejarah adalah sebuah pelajaran sederhana. bahwa keindahan alam tidak selalu berarti aman. Ada tempat-tempat yang diciptakan untuk dikagumi, tetapi juga untuk dihormati.
Terima kasih, Teman-teman sudah meluangkan waktumya, Silakan nih kalau ada kritik, saran, atau apapun itu, kalian bisa sampaikan di kolom komentar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar