Halo sahabat semua kembali lagi di ensiklopedia semoga bisa menambah wawasan dan informasi sahabat semua.
Di padang-padangnya, jumlah domba bahkan lebih banyak daripada manusia. Dan saat musim panas tiba, matahari hampir tidak pernah benar-benar tenggelam. Jam malam terlihat seterang jam siang.

Namun yang paling mengejutkan, negeri ini juga menjadi salah satu negara paling aman di dunia. Sebuah tempat di mana gunung berapi dan gletser hidup berdampingan.
Dan inilah Islandia, sebuah negeri yang benar-benar berbeda.
Secara geologis, Islandia merupakan salah satu daratan termuda yang dimiliki bumi. Bahkan dalam sejarah peradaban manusia, pulau ini menjadi salah satu wilayah terakhir yang ditemukan dan kemudian dihuni.
Letaknya begitu terpencil seolah berada di ujung dunia. Di sebelah barat hanya sekitar 300 km terbentang hamparan es Greenland yang begitu luas. Sementara untuk mencapai daratan Eropa terdekat di Norwegia, kita harus menyeberangi lebih dari 1000 km lautan Atlantik yang dingin dan ganas.
Keterpencilan itu menjadikan Islandia sebagai negara pulau yang sama sekali tidak memiliki perbatasan darat dengan negara manapun. Di utara, laut Greenland membentang dengan perairan yang membeku.
Di timur dan selatan, Samudra Atlantik Utara terus menghantam garis pantainya dengan ombak yang nyaris tak pernah berhenti. Sedangkan di barat, Selat Denmark menjadi pemisah alami antara Islandia dan Greenland.
Bagi banyak negara, keterasingan mungkin menjadi sebuah kelemahan. Namun, bagi Islandia, justru lautan luas itulah benteng pertahanan terbaik yang pernah dimilikinya. Selama berabad-abad, alam telah menjaga negeri ini dari berbagai konflik perbatasan yang begitu sering mewarnai sejarah bangsa-bangsa lain.
Tetapi keajaiban Islandia tidak berhenti pada letaknya yang terpencil. Pulau ini juga mempunyai julukan yang hampir sulit dipercaya.
The Land of Fire and Ice, negeri api dan es.
Dan julukan es itu bukanlah sebuah kiasan. Sekitar 11% wilayah Islandia tertutup oleh lapisan gletser raksasa yang telah membeku selama ribuan tahun.
Di antaranya berdiri Fatna Jokul, gletzer terbesar di seluruh benua Eropa. Sebuah hamparan putih yang begitu luas hingga horizon. seolah menghilang dalam kesunyian. Saat kita berdiri di hadapannya, yang terdengar hanyalah disir angin dingin yang melintasi hamparan es tanpa ujung.

Udara terasa begitu tajam, sementara pemandangan di sekeliling menghadirkan keheningan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Namun, tepat di bawah ketenangan itu, bumi sebenarnya tidak pernah benar-benar diam. Islandia berdiri tepat di atas Mid
Atlantic Ridge, retakan raksasa yang menjadi batas pertemuan lempeng Eurasia dan lempeng Amerika Utara. Akibatnya, negeri kecil ini memiliki lebih dari 30 sistem gunung berapi aktif disertai ratusan mata air panas bumi yang terus menyemburkan uap dari dalam perut bumi.
Di sinilah kita bisa menyaksikan pemandangan yang hampir terasa mustahil. Lava merah menyala perlahan mengalir menembus hamparan salju putih yang membeku. Api dan es.
Dua kekuatan yang selama ini kita anggap saling bertolak belakang. Justru bertemu, berdampingan, dan setiap hari bersama-sama membentuk wajah Islandia yang terus berubah sejak ribuan tahun lalu.
Dan mungkin di negeri ini alam tidak pernah memilih antara api atau es, Namun Keduanya hidup berdampingan. Di negeri ini, kesunyian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ia justru menjadi bagian dari kehidupan.
Di balik pegunungan yang menjulang, di antara lembah-lembah yang diselimuti lumut hijau dan di sepanjang jalan yang seolah tak berujung, kita akan menemukan sebuah pemandangan yang mulai langka di banyak belahan dunia.

Ruang yang begitu luas hingga alam terasa jauh lebih dominan daripada manusia. Luas wilayah Islandia hampir menyamai Pulau Jawa mencapai sekitar 103.000 km².
Namun di atas daratan seluas itu, jumlah penduduk Islandia hanya sekitar 370.000 jiwa. Perbandingannya benar-benar sulit dibayangkan.
Jika Pulau Jawa dihuni oleh lebih dari 150 juta manusia yang hidup berdampingan setiap hari, maka seluruh penduduk Islandia bahkan tidak mampu memenuhi satu kota besar di Indonesia.
Kesunyian itulah yang menjadi wajah asli negeri ini. Lebih dari 60% penduduk memilih tinggal di Reyavik, ibu kota Islandia. Sementara di luar kota, alam kembali mengambil alih.
Padang rumput membentang tanpa pagar, pegunungan berdiri tanpa suara. Dan jalan-jalan panjang terkadang hanya ditemani angin yang berembus melintasi hamparan lava dan lumut.
Di beberapa wilayah rata-rata hanya 3 hingga empat orang yang menghuni setiap 1 km². Angka yang terdengar hampir mustahil bagi mereka yang terbiasa hidup di tengah hiruk pikuk kota.
Karena itulah rumah-rumah di Islandia berdiri di atas lahan yang begitu lapang. Tidak ada deretan gang sempit. Bahkan di daerah-daerah terpencil, rumah tetangga terdekat bisa berada beberapa kilometer jauhnya.
Saat malam tiba, yang terdengar bukanlah suara kendaraan atau keramaian kota, melainkan desir angin, gemercik sungai, atau sesekali suara burung yang melintas di langit utara.
Dengan jumlah penduduk yang sangat sedikit, banyak orang saling mengenal satu sama lain. Rasa kebersamaan tumbuh secara alami, seolah seluruh negeri ini adalah sebuah komunitas besar yang hidup berdampingan.
Sekitar 75% penduduk memeluk agama Kristen. Sementara sebagian lainnya memilih tidak beragama atau tetap menjaga kepercayaan leluhur bangsa Nordik yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Dalam kehidupan sehari-hari, mereka juga menggunakan mata uang sendiri, yaitu Icelandic Corona sebagai simbol kemandirian sebuah negara kecil yang berhasil berdiri dengan jalannya sendiri.
Islandia pun menjalankan pemerintahannya sebagai sebuah republik parlementer. Seorang perdana menteri memimpin jalannya pemerintahan sementara Presiden hadir sebagai kepala negara sekaligus lambang persatuan bagi seluruh rakyatnya.
Namun, ada satu warisan yang membuat negeri kecil ini begitu istimewa. Jauh sebelum banyak negara modern mengenal demokrasi, bangsa Viking di Islandia telah lebih dulu membangun sebuah majelis yang disebut Altingi.
Didirikan pada tahun 930 Masehi. Lembaga ini diakui sebagai salah satu parlemen tertua di dunia yang masih aktif hingga sekarang.
Lebih dari 1000 tahun telah berlalu. Generasi datang dan pergi. Dunia terus berubah. Namun tradisi untuk berkumpul, bermusyawarah, dan mencari keputusan bersama tetap hidup di negeri yang sunyi ini. Dan mungkin di tempat yang paling sepi inilah suara setiap orang justru terdengar paling berarti.
Terima kasih, Teman-teman sudah meluangkan waktumya, Silakan nih kalau ada kritik, saran, atau apapun itu, kalian bisa sampaikan di kolom komentar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar